Sewaktu disekolah dasar, kami diajarkan untuk menanam tanaman-tanaman obat yang ada disekita desa. Program ini dicanangkan Bapak Kepala Sekolah, dan setiap wali kelas ( kelas 1 – 6) menjadi koordinator untuk program penanaman apotek hidup ini. Waktu itu, saya kelas 4 SD, itu artinya saya bersama 40 teman lainnya (satu kelas ada 41 murid, banyak ya..), bertanggung jawab terhadap pengadaan jenis tanaman apotik hidup. Karena setiap kelas mempunyai halaman kelas, maka kita berlomba untuk mempercantik taman depan kelas dengan aneka ragam tanaman obat. Mulailah, perburuan tanaman obat dimulai. Ada yang bertugas mencari bibit daun saga ( daun untuk obat sariawan, berwarna hijau, dan bijinya bulat sebesar kacang kedelai berwarnan merah dan hitam,,cantik lho), kunyit, jahe, kencur, kumis kucing, cecendet ( orang sunda bilang, engga tau bahasa indonesianya). Aku sendiri bertugas membaca kumis kucing. Semua tanaman yang disebutkan diatas tidak terlalu susah mendapatkannya. Rata – rata orang di kampung menanamnya sebagai tanaman hias atau sengaja tumbuh liar, khusus untuk kun
yit,jahe dan kencur, mereka gunakan untuk memasak. Jadi, tidak usah repot2 pergi ke warung ato kepasar. Cukup, mencarinya dikebih halaman kalo sewaktu2 membutuhkannya.
Masa yang ditunggupun tiba, biasanya, acara tanam- menanam ini dilakukan dipagi hari. Hari Sabtu adalah hari paling bahagia, selain belajar dikelas sedikit, olah raga biasanya dilakukan pada hari sabtu. Guru kelas, mengumumkan bahwa acara penanaman apotik hidup dilakukan pada hari Sabtu. Saya sudah dari pagi mempersiapkan bibit tunas kumis kucing, cecendet dan satu lagi kencur untuk ditanam disekolah. Tak lupa saya bawa pupuk ( diambil dari tai kambing, beberapa teman, orang tuanya mempunyai kandang kambing, jadi tidak susah mendapatkannya), dan satu lagi alat kesukaan saya “kored” ( sejenis cangkul kecil, untuk menggali tanah dan membuat lubang untuk di isi tanaman). Kegiatan ini dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang bertugas mengambil air untuk menyiram tanaman, ada yang membuat design taman, dimana sebaiknya tanaman ini diletakkan untuk terlihat lebih indah, ada yang mencangkul, dan menata tanaman. dll. Semua dilakukan dengan senang hati. Tak terasa hari sudah siang, dan kamipun menyudahi kegiatan ini.
Untuk perawatan, setiap murid yang piket wajib menyiram tanaman. kecuali kalau itu musim hujan, maka dengan sendirinya tugas menyiram tanaman gugur. Terasa sekali hasilnya. Salah satu guru kelas 5 ( Ibu Eni), senang sekali dengan daun saga yang kami tanam. Pohon itu tumbuh dengan suburnya. Sambil duduk dan memeriksa hasil ujian kami, Ibu ini mengunyah daun saga persis seperti orang yang lagi “nyeupah” apa ya..bahasa Indonesianya ?? menginang kali ya…![]()
Beberapa warga sekitar sekolahpun ada yang meminta izin untuk mengambil apotek hidup kami. Rasanya, menyenangkan sekali. Tapi, yang paling malang kalau beberapa anak laki – laki merusak tanaman obat ini, pada saat mereka main kejar – kejaran atau bermain bola..huaaa…kalo sudah begini. para murid perempuan langsung monyong2 dan mengumpatĀ habis – habisan.
Walo mungkin sekarang sekolahnya sudah gersang dan semua tertutupi oleh paving block, tapi apotik hidup ini masih tetap hidup ( in my mind..). At least, jadinya tahu mana yang namanya pohon kumis kucing, daun saga, pohon kunyit, pohon jahe, kencur, cecendet or serai salah satunya ( aku baru tau namanya “lemon grass” setelah berada di Oz sini..)..hmmm..emang orang Asia suka makan rumput2an ya..”grass aja dimakan..hehe..”
